Sepekan Perlahan - 05.29.21

Gengsi

Halo, bagaimana kabarmu di penghujung bulan kelima 2021 ini?


Catatan Personal

Rejekimu Tidak Akan Cukup Untuk …

Coba lengkapi kalimat itu ya.

Surat pekan ini terinspirasi dari lagu karya Jogja Hip Hop Foundation (JHF) yang berjudul Kecap No. 1. JHF merupakan salah satu kolektif musik favorit saya sejak saya berkuliah di Jogja. Siapa yang sangka budaya hip hop dan rap bisa diramu dan disajikan dengan nuansa Jawa yang manis tapi juga nylekit.

Lagu Kecap No. 1 bercerita tentang fenomena gengsi di dalam kehidupan sosial. Tidak jarang, kita membeli beragam barang untuk pamer. Tidak jarang juga saya sendiri mendengar berbagai cerita liburan dengan utang demi mempercantik tampilan secuil kehidupan di Instagram. Di bagian chorus lagu itu, lirik yang dinyanyikan sangat menyentil. JHF bertanya:

Opo wareg mangan gengsi?

Apa kenyang makan gengsi? Seringkali, gengsi yang kita miliki malah berujung ke besar pasak daripada tiang. JHF mengingatkan bahwa rejeki kita tidak akan cukup untuk memberi makan gengsi kita. Jika gaji belum cukup, mungkin memang belum waktunya makan steak wagyu setiap minggu.

Memang, tidak mudah menahan laju gaya hidup seiring dengan bertambahnya laju pendapatan. Pada dasarnya banyak manusia juga ingin semakin berkembang dari tingkatan aman ke tingkatan nyaman. Saya juga tidak menutup mata pada banyak profesi di luar sana yang memang perlu meningkatkan gaya hidup seiring dengan peningkatan karir. Misalnya, berbagai profesi yang berkaitan dengan berjualan. Ada yang perlu menyesuaikan penampilannya untuk menghormati profil kliennya yang juga semakin tinggi. Ada juga yang perlu mulai paham golf seiring dengan kegiatan di lingkup profesionalnya.

Kembali ke lagu Kecap No. 1, yang ditekankan JHF adalah fenomena banyaknya orang yang gelap mata dan habis-habisan untuk “terlihat kaya”. Namun, ketika tanggal tua kebingungan sendiri.

Tanggal muda, saatnya gajian
Online shopping, mata keranjingan
Tuka-tuku P-A-P-O koyo kesurupan
Tanggal tua tiba lalu ngutang kiri kanan

Tampil mempesona, di sosial media
Copy paste gaya, sang seleb idolanya
Gelap mata, tak peduli biaya
Tak bersisa, habis uang demi gaya

Semenjak pandemi pun saya jadi semakin belajar saya masih suka beberapa barang yang seringkali dibeli karena ego. Dibeli karena belum benar-benar perlu. Pandemi yang juga berdampak pada aliran keuangan memaksa saya untuk rajin berintrospeksi dalam menyusun prioritas kebutuhan utama.

.

.

Semoga, lagu dari JHF juga menjadi pengingat yang jenaka bagi kita semua.

Apakah kamu mau berbagi cerita seputar gengsi?

Silakan berkomentar atau kirim pesan di Instagram, ya!

Leave a comment


Belajar dari Sekitar

Aturan Besi tentang Uang

Saya masih cukup mengulik beberapa tulisan Morgan Housel. Tulisan dia ketika masih di Motley Fool sangat berhubungan dengan surat pekan ini. Dia cukup sering menyuarakan bahwa tingkat menabung kita merupakan jarak antara pendapatan dan ego kita. Biasanya, semakin kecil ego atau gengsi kita, semakin besar persentase menabung kita. Tidak letih dia mengingatkan bahwa kekayaan atau kesejahteraan sejati adalah apa yang tak terlihat. Wealth is the stuff you don’t see. Misalnya kendaraan yang tidak jadi kita beli, perhiasan yang tidak kita beli, dan berbagai baju-baju bermerk yang tidak kita beli.

Your saving rate is the gap between your income and your ego.

Lebih lanjut bisa dibaca di artikel berikut:

Iron Rules of Money


Alunan Sepekan

Kecap No. 1 - Jogja Hip Hop Foundation

Rejekimu ora bakal cukup

Dinggo ngragati gayamu

Opo wareg mangan gengsi?

Gengsi dikecapi ‘tep ra penak didilati


Selamat berkahir pekan dan semoga kita semua diberkahi kesehatan!

Terima kasih.

Salam,

Perlahan Sejahtera