Sebaik-baiknya | #SepekanPerlahan - 10.02.21

Dalam kerja dan karya.

Hai, teman-teman.

Setelah membahas penghasilan di pekan lalu, saya jadi teringat beberapa tulisan penting yang saya pelajari tentang berpenghasilan.


Belajar dari Sekitar

Berusaha Sebaik-baiknya

Ketika menulis surat ini, saya serasa menampar diri sendiri. Hehe. Mengapa begitu?
Mungkin karena, tahun 2016 kemudian 2019 hingga 2021 menjadi tahun yang menantang bagi saya sejauh ini. Saya sendiri kesulitan untuk menerapkan pelajaran ini.

Tahun 2016, Ko Edward Suhadi menulis sebuah tulisan berjudul: Walaupun Bos Kamu Brengsek dan Gaji Kamu Kecil. Perlu diketahui, Ko Edward sudah menjadi wirausaha lebih dari 16 tahun. Jadi, belajar dari orang yang sudah memberi gaji karyawan lebih dari satu dekade semestinya adalah hal baik. Di tulisan itu, Ko Edward memberi pandangan sederhana tentang satu hal yang membedakan orang yang karirnya terus naik dengan orang lainnya.

Ketika bekerja, kamu sedang membangun karirmu sendiri.

Bagaimana karirmu, bagaimana kamu menghargai waktu, bagaimana kamu berusaha memberikan 15 ketika diminta 10, bagaimana kamu menjadi team-player, bagaimana kamu bisa menjadi orang yang diandalkan, bagaimana handalnya kamu mencari solusi yang lebih elegan, bagaimana kamu peduli akan hasil pekerjaan kamu, semuanya itu tidak pernah tergantung kepada bos kamu dan perusahaan kamu.

Jikalau kamu bekerja betul (seperti “bagaimana-bagaimana” di atas tadi) maka kamu pasti akan bertambah secara nilai.

Namun, mungkin memang hidup tidak melulu mulus. Di sisi lain, apa yang dilakukan bos kita tidak sepenuhnya dalam kendali kita. Saya rasa, di sinilah pentingnya peran sabar dalam berkarir dan berkarya. Satu hal yang sempat saya pinggirkan di tahun 2019.

Ko Edward menuliskan:

Nah, jikalau bos kamu pintar dan bisa melihat ini, dia pasti akan memikirkan bagaimana mereward kamu: promosi, gaji, fasilitas, tanggung-jawab, recognition.

Jika bos kamu pintar, hal-hal ini sudah pasti terjadi. Pasti. Remember, I’m a boss almost all my life.

“Gua akan kerja sedemikian rupa sampai bos gua malu gaji gua segitu,” kata seorang teman yang sepanjang hidupnya karirnya melesat terus.

Nah, jikalau bos kamu *tidak* pintar dan tidak bisa melihat nilai kamu yang terus naik, maka tinggal hanya tunggu waktu

  1. kamu keluar untuk mencari pekerjaan lain/usaha sendiri, atau

  2. ada bos pintar lain di luar sana yang melihat kamu dan akhirnya kamu ditarik oleh dia.

.

Kembali ke refleksi saya di tahun 2019, saya lebih memilih untuk mencari pekerjaan lain. Setidaknya, saya mencoba sebuah hal yang saya takutkan dengan persiapan yang saya rasa sudah cukup matang. Saat itu saya merasa, semestinya perusahaan tidak menunggu seorang karyawan ingin keluar, baru memberikan tawaran dan membuka lebih banyak obrolan. Di sisi lain, mungkin memang saat itu saya harus sedikit “melawan” perusahaan dengan cara yang lebih cerdas. Menjadi pelajaran yang terus saya ingat sekarang. Mungkin, menjalin komunikasi yang sehat dengan bos kita jauh lebih penting agar obrolan seputar ekspektasi menjadi lebih cair.

.

Kebetulan juga, beberapa waktu lalu berkesempatan mendengar Ko Chris Angkasa lagi di sebuah acara. Di situ dia berujar:

Gaji adalah bentuk paling rendah dari hasil kerja Anda.

Awalnya, cukup sulit untuk saya cerna. Tapi, saya teringat bahwa Ko Edward juga pernah menceritakan hal yang senada seputar gaji.

Begitu ada pandemi di tahun 2020, saya baru sadar begitu banyak hal-hal baik lainnya yang tidak kelihatan. Intangible.

Bentuk yang lebih tinggi dari hasil kerja kita, seringkali tidak kelihatan. Pencapaian kerja, rekan-rekan kerja yang menyenangkan, hubungan dengan klien yang baik, juga pengetahuan dan kemampuan yang bertumbuh.

Jadi teringat kembali nilai-nilai penting yang dituliskan Ko Chris Angkasa tentang aset termahal, antara lain pengetahuan, reputasi, dan network.

Lalu, bagaimana bos kita menilai gaji kita?

.

.

Coba sejenak kita ibaratkan handphone adalah diri kita dalam pekerjaan. Ketika kita merasa handphone kita sudah tidak bisa membantu kehidupan kita sehari-hari, kita akan semakin giat mencari pengganti yang baru. Apalagi, sekarang semakin mudah membeli handphone tanpa perlu keluar rumah. Begitu juga dalam pekerjaan, jika kita tidak memberi manfaat, kita akan digantikan.

Dalam pekerjaan, jadi semakin bisa dimengerti mengapa biasanya gaji para new entry relatif lebih kecil daripada senior lainnya. Gaji pekerja lapangan relatif tidak bisa sebesar pengambil keputusan di kantor. Karena, realitanya begitu banyak kompetisi di posisi tersebut. Sekali lagi, mungkin akan terdengar nyelekit.

Semakin mudah kita digantikan, semakin rendah gaji yang kita dapatkan.

Mungkin memang realita yang sulit dicerna. Tapi, jika memang gaji kita kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar kita, salah satu cara mengatasinya adalah dengan meningkatkan gaji. Meningkatkan gaji akan lebih berkelanjutan jika kita juga meningkatkan nilai kita.

.

.

Tetap perlu saya ingat, prosesnya mungkin akan jauh dari instan. Meningkatkan nilai seringkali dimulai dari hal-hal kecil. Bagaimana kita berkomunikasi dengan rekan kerja, dengan klien, membuat laporan kerja, mengirim atau membalas email; sebelum berlanjut ke masalah yang lebih kompleks.

Yang terpenting, nilai kita semestinya meningkat seiring dengan masalah yang kita selesaikan. Di tulisan lain yang saya rasa begitu berkaitan, Ko Edward menawarkan cara pandang dalam bekerja. Tulisan tersebut berjudul: Di Pekerjaan Kamu Banyak Masalah?

Jikalau perjalanan karirmu ibaratnya sebuah jalan panjang dan masalah-masalah (sehat) adalah lubang-lubang menganga dan tumpukan batu dan pohon tumbang di sepanjang jalan itu,

jangan melihat dirimu sebagai pengemudi sebuah mobil yang mau pelesiran dan bersenang-senang, namun rintangan-rintangan jahanam ini mengganggu dan bikin repot dan bikin kesal.

Tapi lihatlah dirimu sebagai sebuah crew perbaikan jalan.

.

Masalah apa yang kamu hadapi dalam pekerjaan?

Saya harap, masalah yang kita hadapi bisa membentuk kita menjadi semakin bernilai. Menjadi semakin sulit digantikan.

Mungkin, lewat proses yang “penuh masalah” itu, kita malah semakin sejahtera.

Mari, berusaha sebaik-baiknya menjadi pembuka jalan.


Mungkin kamu mau bercerita soal gaji kamu?
Atau mungkin juga ada pengalaman seputar keluar dari pekerjaan?

Atau, kamu punya cerita tentang bos yang bagus dan memberi kesan untukmu?

Silakan berkomentar atau berkirim pesan di sosial media Perlahan Sejahtera ya.

Leave a comment


Alunan Sepekan

That’s The Way of The World - Earth, Wind, & Fire

You will find,
Peace of mind,
When you look way down
in your heart and soul


Selamat menikmati akhir pekan, dan selamat datang bulan Oktober!

Terima kasih.
Salam,
Perlahan Sejahtera