Penghasilan | #SepekanPerlahan 09.25.21

Berbagai dimensi penghasilan.

Halo, teman-teman.

Setelah membahas seputar aset pekan lalu, kali ini saya ingin lanjut membahas penghasilan.


Belajar dari Sekitar

Memproses Penghasilan

Di bulan sembilan tahun 2021 ini, saya masih belum memiliki penghasilan tetap. Efisiensi perusahaan akibat pandemi menjadi salah satu penyebab saya harus merelakan pekerjaan utama. Saya bersyukur masih memiliki dana darurat yang cukup untuk melanjutkan hidup bersama keluarga di tengah pandemi ini. Bahkan, bisa tetap menulis setiap pekan. Sebuah pengalaman yang penuh rasa campur aduk, terutama karena penghasilan semestinya menjadi bagian penting dalam proses menumbuhkan aset kita. Saya harap, situasi penghasilanmu saat ini cukup untukmu hidup dan bertumbuh.

Penghasilan, atau gaji, memang sebuah hal yang cukup sensitif—setidaknya di Indonesia. Saya termasuk yang sering berpandangan bahwa setidaknya kita perlu transparan soal gaji dengan pasangan terdekat kita. Atau, jika kita masih belum berkeluarga, kita perlu terbuka secukupnya perihal gaji dengan orang tua kita. Karena, dari gaji kitalah kita bisa memulai mengelola biaya kebutuhan kita. Lalu jika memungkinkan, untuk mulai menabung dan berinvestasi demi tujuan yang kita inginkan.

Baru-baru ini, saya juga belajar bahwa ucapan “gaji pasti cukup” perlu ditelaah lebih lanjut. Seperti opini dari Mba Annisa berikut:

Cuitan tersebut mengingatkan saya kembali pelajaran di pekan lalu bahwa “titik awal setiap orang berbeda-beda.” Karena memang, bagi banyak orang bisa saja gaji mereka sungguh terlalu pas-pasan untuk dikelola lebih lanjut.

Apalagi, obrolan soal keuangan bukanlah hal yang mudah bagi banyak orang. Walau aturan utama tetap sungguh sederhana.

Pengeluaran harus lebih sedikit daripada penghasilan.

.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Saya setuju dengan Mba Annisa bahwa kita perlu mulai dengan mencatat. Mencatat juga merupakan salah satu wujud “ngobrol” dengan diri sendiri. Transparan dengan situasi diri. Kita bisa mulai mencatat:

  • Berapa penghasilan bersih kita?

  • Berapa biaya kebutuhan wajib kita?

  • Berapa besar pengeluaran rutin kita?

.

Lagi-lagi, memang bukan hal yang mudah. Gaji yang diterima masing-masing orang terasa memiliki beragam dimensi.

.

Bagaimana saya belajar mencatat keuangan pribadi?

Saya mencoba mengingat kembali sewaktu kuliah dulu. “Penghasilan” saya adalah uang pegangan bulanan dari orang tua dan kakak. Saya bersyukur mereka masih bisa mendukung pendidikan saya. Saya sadar, “penghasilan” itu tidak melulu tetap. Maka dari itu, saya memaksa diri untuk mencatat. Perlu diingat, di tahun 2007-an dulu belum banyak aplikasi dengan smartphone. Saya mencatat di buku catatan khusus pengeluaran setiap hari. Sekecil apapun itu, meskipun hanya seribu rupiah untuk fotokopi bahan pelajaran kuliah. Sebuah kebiasaan yang kadang membuat beberapa teman saya bingung. Haha. Lucu juga jika diingat kembali.

Tapi, saya bersyukur dengan kebiasaan itu. Saat itu, saya juga belajar berkomitmen kecil-kecilan untuk bisa jalan-jalan sendiri tanpa minta tambahan orang tua.

Saya belajar jujur untuk melihat jajanan apa ya yang bisa saya kurangi? Apakah kemeja baru itu benar-benar saya perlukan untuk kuliah? Atau mungkin, saya terlalu cepat bosan dengan kemeja kuliah yang itu-itu saja?

Kebiasaan tersebut berlanjut saat bekerja. Bahkan, semakin terbantu dengan adanya beragam aplikasi yang juga bisa membantu membuat kategorisasi pengeluaran kita. Kita bisa melihat rekap pengeluaran bulanan dengan visualisasi seperti ini:

Mungkin, lewat proses mencatat dan transparan dengan diri sendiri, kita bisa menjawab apakah selama ini pengeluaran kita lebih sedikit atau lebih besar dari pengeluaran?

Lalu, mana yang bisa kita lakukan terlebih dahulu? Menekan pengeluaran atau mencari penghasilan tambahan?

Sebisa mungkin, kita menjawabnya dengan kesadaran kita sendiri. Apapun yang terjadi dari keputusan kita, setidaknya bisa kita jadikan pelajaran untuk mengambil langkah yang lebih baik di kemudian hari.

Semoga, hubunganmu dengan penghasilanmu bisa tetap sehat. Jika kita sedang di kondisi yang baik, kita juga tidak bisa serta merta menghakimi mereka yang memang di kondisi pas-pasan. Kita tidak bisa benar-benar tahu kondisi sesungguhnya setiap orang. Tapi, kita bisa mencoba tetap berempati.

.

Semoga penghasilanmu bisa menjadi berkah bagimu dan sekitarmu.

Jika ingin berbincang seputar penghasilan, silakan berkomentar di newsletter ini atau DM media sosial Perlahan Sejahtera ya!

.

Leave a comment


Alunan Sepekan

Moon - Kanye West, ft. Kid Cudi & Don Toliver

Angels, they say I'm not ever weak, such a lonely moment
Heaven knows I might never sleep, trouble in my soul
Hey, I've been prayin', life can be drainin', oh


Selamat menikmati akhir pekan ya!

Terima kasih.
Salam,
Perlahan Sejahtera